Penaja

24.10.09

Syair-Syair Hamzah Fansuri

Januari 15, 2009

Hamzah Fansuri di negeri Melayu,
tempatnya kapur di dalam kayu,
Asalnya manikam tiadakan layu,
Dengan ilmu dunia manakan payu.

Hamzah Syahrun-Nawi terlalu hapus,
seperti kayu sekelian hangus,
asalnya laut tiada berarus,
menjadi kapur di dalam Barus.


Petikan Syair Dagang ~ Hamzah Fansuri

Julai 1, 2007

Hai sekalian kita yang kurang
nafsumu itu lawan berperang
jangan hendak lebih baiklah kurang
janganlah sama dengan orang

Amati-amati membuang diri
menjadi dagang segenap diri
baik-baik engkau fikiri
supaya dapat emas sendiri

~Hamzah Fansuri

(Petikan Syair Dagang)


Syair Si Burung Pingai ~ Hamzah Fansuri

Mac 14, 2007

Hamzah sesat di dalam hutan
pergi uzlat berbulan-bulan
akan kiblatnya picek dan jawadan
inilah lambat mendapat Tuhan

Unggas pingai bukannya balam
berbunyi siang dan malam
katanya akal ahl al-alam
Hamzah Fansuri sudahlah kalam

Tuhan hamba yang punya alam
timbulkan Hamzah yang kalam
ishkinya jangankan padam
supaya warit di laut dalam

~ Hamzah Fansuri

(Petikan Syair Si Burung Pingai)


Syair Perahu ~ Hamzah Fansuri

Februari 27, 2007

Inilah gerangan suatu madah
mengarangkan syair terlalu indah,
membetuli jalan tempat berpindah,
di sanalah i’tikat diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu,
ialah perahu tamsil tubuhmu,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat perahumu jua kerjakan,
itulah jalan membetuli insan.

Perteguh jua alat perahumu,
hasilkan bekal air dan kayu,
dayung pengayuh taruh di situ,
supaya laju perahumu itu

Sudahlah hasil kayu dan ayar,
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir.

Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah di sana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.

Muaranya dalam, ikanpun banyak,
di sanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak
ke atas pasir kamu tersesak.

Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam ombaknya karang
ikanpun banyak datang menyarang
hendak membawa ke tengah sawang.

Muaranya itu terlalu sempit,
di manakan lalu sampan dan rakit
jikalau ada pedoman dikapit,
sempurnalah jalan terlalu ba’id.

Baiklah perahu engkau perteguh,
hasilkan pendapat dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh,
pulaunya jauh tempat berlabuh.

Lengkapkan pendarat dan tali sauh,
derasmu banyak bertemu musuh,
selebu rencam ombaknya cabuh,
La ilaha illallahu akan tali yang teguh.

Barang siapa bergantung di situ,
teduhlah selebu yang rencam itu
pedoman betuli perahumu laju,
selamat engkau ke pulau itu.

La ilaha illallahu jua yang engkau ikut,
di laut keras dan topan ribut,
hiu dan paus di belakang menurut,
pertetaplah kemudi jangan terkejut.

Laut Silan terlalu dalam,
di sanalah perahu rusak dan karam,
sungguhpun banyak di sana menyelam,
larang mendapat permata nilam.

Laut Silan wahid al kahhar,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan membelok sengkar
perbaik kemudi jangan berkisar.

Itulah laut yang maha indah,
ke sanalah kita semuanya berpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah
selamatlah engkau sempurna musyahadah.

Silan itu ombaknya kisah,
banyaklah akan ke sana berpindah,
topan dan ribut terlalu ‘azamah,
perbetuli pedoman jangan berubah.

Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit pada sekalian alam
banyaklah di sana rusak dan karam,
perbaiki na’am, siang dan malam.

Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras bertambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam.

Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi teduh
tambahan selalu tetap yang cabuh
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.

Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budimannya,
berlayar itu dengan kelengkapannya.

Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan [dayungnya]
iman Allah nama kemudinya,
“yakin akan Allah” nama pawangnya.

“Taharat dan istinja’” nama lantainya,
“kufur dan masiat” air ruangnya,
tawakkul akan Allah jurubatunya
tauhid itu akan sauhnya.

Salat akan nabi tali bubutannya,
istigfar Allah akan layarnya,
“Allahu Akbar” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.

“Wallahu a’lam” nama rantaunya,
“iradat Allah” nama bandarnya,
“kudrat Allah” nama labuhannya,
“surga jannat an naim nama negerinya.

Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair tempat berpindah,
di dalam dunia janganlah tam’ah,
di dalam kubur berkhalwat sudah.

Kenali dirimu di dalam kubur,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan bertutur?
di balik papan badan terhancur.

Di dalam dunia banyaklah mamang,
ke akhirat jua tempatmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.

Tuntuti ilmu jangan kepalang,
di dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir ke sana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang.

Tongkatnya lekat tiada terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan lenyap,
(baris ini tidak terbaca)

Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu bertambah garang,
tongkatnya besar terlalu panjang,
cabuknya banyak tiada terbilang.

Kenali dirimu, hai anak dagang!
di balik papan tidur telentang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan berbincang?

La ilaha illallahu itulah firman,
Tuhan itulah pergantungan alam sekalian,
iman tersurat pada hati insap,
siang dan malam jangan dilalaikan.

La ilaha illallahu itu terlalu nyata,
tauhid ma’rifat semata-mata,
memandang yang gaib semuanya rata,
lenyapkan ke sana sekalian kita.

La ilaha illallahu itu janganlah kaupermudah-mudah,
sekalian makhluk ke sana berpindah,
da’im dan ka’im jangan berubah,
khalak di sana dengan La ilaha illallahu.

La ilaha illallahu itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kau sunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan.

La ilaha illallahu itu kata yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian rusuh,
jin dan syaitan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.

La ilaha illallahu itu kesudahan kata,
tauhid ma’rifat semata-mata.
hapuskan hendak sekalian perkara,
hamba dan Tuhan tiada berbeda.

La ilaha illallahu itu tempat mengintai,
medan yang kadim tempat berdamai,
wujud Allah terlalu bitai,
siang dan malam jangan bercerai.

La ilaha illallahu itu tempat musyahadah,
menyatakan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pertemuan Tuhan terlalu susah.

~ Hamzah Fansuri

Di Atas Runtuhan Kota Melaka ~ Hamka

Mac 19, 2007

Di atas runtuhan Melaka lama
Penyair termenung seorang diri
Ingat Melayu kala jayanya
Pusat kebesaran nenek bahari

Di atas munggu yang ketinggian
Penyair duduk termenung seorang
Jauh pandangku ke pantai sana
Ombak memecah di atas karang

Awan berarak mentilau bernyanyi
Murai berkicau bayu merayu
Kenang melayang ke alam sunyi
Teringat zaman yang lama lalu

Sunyi dan sepi, hening dan lingau
Melambai sukma melenyai tulang
Arwah Hang Tuah rasa menghimbau
Menyeru umat tunduk ke Tuhan

Di sini dahulu alat kebesaran
Adapt resam teguh berdiri
Duduk semayam Yang Dipertuan
Melimpahkan hukum segenap negeri

Di sini dahulu Laksamana Hang Tuah
Satria moyang Melayu jati
Jaya perkasa, gagah dan mewah
‘Tidak Melayu hilang di bumi’

Di sini dahulu paying terkembang
Megah Bendahara Seri Maharaja
Bendahara yang cerdik tumpuan dagang
Lubuk budi laut bicara

Penyair menghadap ke laut lepas
Selat Melaka tenang terbentang
Awan berarak riak menghempas
Mentari turun rembanglah petang

Wahai tuan Selat Melaka
Mengapa tuan berdiam diri?
Tidakkah tahu untung hamba
Hamba musafir datang ke mari

Di mana Daulat Yang Dipertuan
Mana Hang Tuah, mana Hang Jebat
Mana Bendahara johan pahlawan
Bukankah jelas di dalam babad

Namanya tetap jadi sebutan
Bekasnya hilang payah mencari
Sedikit penyair bertemu kesan
Musnah dalam gulungan hari

Mengapa ini bekas yang tinggal
Umat yang lemah terkatung-katung
Hidup menumpang tanah terjual
Larat wahai larat dipukul untung

Adakah ini bekas peninggalan
Belahan diriku umat Melayu
Lemah dan lungai tiada karuan
Laksana bunga terkulai layu

Jauh di darat penyair melihat
Gunung Ledang duduk termangu
Tinggi menjulang hijau dan dahsyat
Hiasan hikayat nenekku dahulu

Di dalam kuasyik merenung gunung
Di dalam kemilau panas kan petang
Tengah khayal dirundung menung
Rasanya ada orang yang datang

Penyair hanya duduk sendiri
Tapi keliling rasanya ramai
Bulu romaku rasa berdiri
Berubah warna alam yang permai

Ada rasanya bisikan sayu
Hembusan angina di Gunung Ledang
Entah puteri datang merayu
Padahal beta bukan meminang

Bukanlah hamba Sultan Melaka
Jambatan emas tak ada padaku
Kekayaanku hanya syair seloka
Hanya nyanyian untuk bangsaku

Justeru terdengar puteri berkata
Suaranya halus masuk ke sukma
Maksudmu tuan sudahlah nyata
Hendak mengenang riwayat yang lama

Bukan kuminta jambatan emas
Tapi nasihat hendak kuberi
Kenang-kenangan zaman yang lepas
Iktibar cucu kemudian hari

Sebelum engkau mengambil simpulan
Sebelum Portugis engkau kutuki
Inggeris Belanda engkau cemarkan
Ketahui dahulu salah sendiri

Sultan Mahmud Shah mula pertama
Meminang diriku ke Gunung Ledang
Segala pintaku baginda terima
Darah semangkuk takut menuang

Adakan cita akan tercapai
Adakan hasil yang diingini
Jika berbalik sebelum sampai
Mengorbankan darah tiada berani

Apalah daya Datuk Bendahara
Jikalau Sultan hanya tualang
Memikir diri seorang sahaja
Tidak mengingat rakyat yang malang

Sultan Ahmad Shah apalah akalnya
Walaupun baginda inginkan syahid
Mualim Makhdum lemah imannya
‘Di sini bukan tempat Tauhid’

Bendahara Tua Paduka Raja
Walaupun ingin mati berjuang
Bersama hilang dengan Melaka
Anak cucunya hendak lari pulang

Berapa pula penjual negeri
Mengharap emas perak bertimba
Untuk keuntungan diri sendiri
Biarlah bangsa menjadi hamba

Ini sebabnya umat akan jatuh
Baik dahulu atau sekarang
Inilah sebab kakinya lumpuh
Menjadi budak belian orang

Sakitnya bangsa bukan di luar
Tetapi terhunjam di dalam nyawa
Walau diubat walau ditawar
Semangat hancur apalah daya

Janjian Tuhan sudah tajalli
Mulialah umat yang teguh iman
Allah tak pernah mungkirkan janji
Tarikh riwayat jadi pedoman

Tidaklah Allah mengubah untung
Suatu kaum dalam dunia
Jika hanya duduk terkatung
Berpeluk lutut berputus asa

Malang dan mujur nasibnya bangsa
Turun dan naik silih berganti
Terhenyak lemah naik perkasa
Bergantung atas usaha sendiri

Riwayat yang lama tutuplah sudah
Apalah guna lama terharu
Baik berhenti bermenung gundah
Sekarang dibuka lembaran baru

Habis sudah madahnya puteri
Ia pun ghaib capal pun hilang
Tinggal penyair seorang diri
Di hadapan cahaya jelas membentang

Pantai Melaka kulihat riang
Nampaklah ombak kejar-mengejar
Bangunlah Tuan belahanku saying
Seluruh Timur sudahlah besar

Bercermin pada sejarah moyang
Kita sekarang mengubah nasib
Di zaman susah atau pun riang
Tolong tetap dari Yang Ghaib

Bangunlah kasih, umat Melayu
Belahan asal satu turunan
Bercampur darah dari dahulu
Persamaan nasib jadi kenangan

Semangat yang lemah dibuang jauh
Jiwa yang kecil kita besarkan
Yakin percaya, iman pun teguh
Zaman hadapan, penuh harapan

Bukanlah kecil golongan tuan
Tujuh puluh juta Indonesia
Bukan sedikit kita berteman
Sudahlah bangun bumi Asia

Kutarik nafas, kukumpul ingatan
Aku pun tegak dari renungku
Jalan yang jauh aku teruskan
Melukis riwayat sifat hidupku

Kota Melaka tinggallah sayang
Beta nak balik ke Pulau Percha
Walau terpisah engkau sekarang
Lambat launnya kembali pula
Walaupun luas watan terbentang
Danau Maninjau terkenang jua

~ Hamka

Puisi A.Samad Said

Sajak A.Samad Said – Peludah Bahasa

Ogos 12, 2009

PELUDAH BAHASA

Ketika lahir jeritnya amat mesra-hening suara bayi pertama.
Neneknya pengagum hikayat Tuah membisik iktibar ke telinganya.
Datuknya pencinta Siti Zubaidah bersyair merdu ke qalbunya pula.
Doa dan janji di sanubari inilah cucunya kebanggaan dasa-
insan harapan kerdip pertama yang bakal bersinar sebagai pendakwah.

Ketika bertatih di sisi buaian gelincirnya cepat disantunkan.
Ayah dan ibunya cekal berazam anak termanis di hemah Ramadan.
Diasuh ia menjadi wira dan tidakpun dikira ke bidang mana.
Pada hembusan angin di bukit amat merdu terdengar ia menjerit:
Penyegar budi pilihan pertama, penyemai bakti di qalbu desanya.

Ranum di dalam dan di luar negara menjalar akar benih ilmunya;
pergaulannya alam tak berbatas bertingkat cepat dirinya ke atas.
Pada kempen “bersih-cekap-amanah” terhantar ia ke tampuk kuasa;
masih diingat pesan nenek tentang Tuah; saran datuk tentang Zubaidah.
Sebaik menyingsing SatuMalaysia mula terbelah percik mimpinya.

Tapi, kuasa tersangat nikmatnya-darjat dan harta sebuah buana.
Lalu, dalam lagu gema ternyaring giginya berubah menjadi taring.
Leluhurnya kini damai di kubur, dan sayang, dirinya meruncing takbur.
Terakhir, dengar kisah lupanya – semua dangkal kecuali dirinya.
Terakhir, merebaklah bongkaknya sebagai peludah bahasa Ibunda.

Tak lagi dirinya budayawan desa, pembela bahasa tidak juga.
Kini dia niagawan haloba pemburu kuasa paling selesa.
Memang bukan lagi cucu desawan; segebu dirinya kuasawan.
Dilupa Syair Siti Zubaidah dan tidak dikenal Hikayat Hang Tuah.
Sangatlah selesa dan bangga-dirinya tulen peludah bahasa.

- A.SAMAD SAID

Janda Setinggan – A. Samad Said

Mac 23, 2009

Hari lahirnya Jumaat lalu
lipan menyengat telunjuk kirinya.
Dan dalam matanya yang letih berpusar
asap dan debu. Dunianya amat sedu.
Sesekali angin berang merentap baju
di tengkuknya terserlah pulau panau.
Derita kembaii menderu.

Katanya: Derita itu aku.
Dirinya cemas diterjah usia
dalam kabus belasungkawa -
dia tergigau hampir seminggu
diancam lipan, angin dan debu yang sama.
Desa bahagia, derita.

Katanya: Derita itu aku.
Antara jamban dan dapur
di sisi parit tohor
hari mukanya sabut, tin dan lumpur.
Kalut mega direnungi; kenyit
kilat tak berbunyi. Memang telinga
kirinya kini tuli.
Terjulur pegaga segar dan
ketip ketam cergas mencakar
dalam bakul kenangannya:
sanggul-molek-punggung-cantik
ulam kehidupan zaman penjajah
terlucut colinya suatu pagi
dia dicantasi janji lelaki -
dirinya bukan perawan lagi.

Cinta dan sejarah
mencakar langsir dan mencekau pintunya
menyembur bara mantera
“Aku teringat pandang pertama.”1
Untuk apa? Hingga bila?
Dihantar rayu-resah Sanisah Huri
diterimanya lesu-lara dendang R. Azmi
simfoninya rimba duri
disergah arus mimpi.
Dia yakin di situ
segala tersumpah sebagai batu;
menjadi lebih pasti, sesekali
disentap semboyan kereta api.

Dalam dakapan cubit tak sakit
dia tertipu empat kali
dia setinggan janda berganda
tercemar di belakang kereta.
Tapi, mimpi akhirnya pangsapuri
taman-mini-kolam-mandi
geli hatinya sepagi, kerana
dirinya bas mini
mendesah ke Dayabumi
bersaing rezeki. Dan
sejak anak tunggalnya mati
hikayatnya gunung ngeri,
kehidupannya puisi elegi.
Lalu, di larik bibir
gincu tak seri;
di bawah kenanga
bau tak wangi;
di sisi lampu
bayangtakjadi.
Dia diejek usia, diserapah cinta
empat kali dia terbelah.

Disedari dirinya janda
dijerat rindu -
perahu sepi diagah sunyi
antara Bidong dan Langkawi.
Dia belajar bahagia
di sisi lilin dan kucing yang lara.
Jumaat lalu, di tengah gempa Armenia,
dirai hari lahirnya -
bertunda rekod R. Azmi, käset Sanisah Huri,
berlumba kenangan meracuninya.
Dia terbiasa -
dalam cahaya malamnya siang,
dalam gelita siangnya malam.
Dan kini semakin
payah dikenalnya bila
jantan insan-hewani, bila
pula hewani-insani.
Lelaki tak dipercaya lagi.
Sejak itu bergilir tetangga
mengadapnya – sedu dalam ayat syahdu
Dan ketika racaunya sampai ke puncak
Tujuh kali dia tersentak.
Darah, najis dan muntah saling mengasak.
Dalam biliknya berdinding akhbar,
tingkap berkiut, lantai berlumut
dia mengucap semput.
Tercungap. Tersentap. Terhenti.
Matinya di sisi sisa nasi,
Rehal retak, subang pengantin, foto anak.
Tak mungkin jantan menipunya lagi!

~ A. Samad Said


Nikmat ~ A. Samad Said

Mei 12, 2008

Segala yang dihasrat
tapi tak didapat
adalah nikmat
yang paling padat.

A. Samad Said
(Benih Semalu)


Hidup Bersama ~ A Samad Said

Oktober 24, 2007

Kita sudah sampai di lereng amat indah, di bawah
pelangi, dalam ufuk yang masih mencabar;
dan kita ikhlas berjanji untuk bermaruah,
tenang dalam segala uji cabar dan debar.
Kita mencari hanya yang tulen dan jati,
sekata hidup, mengerti dan berbudi.

Kita wajar mendaki lagi kerana puncak
yang jauh. Dalam gelora dan taufan
tak tercalar tekad kita kerana kemerdekaan
mengasuh kita bersuara dalam sopan,
yakin menyanggah musuh, tulus menambah kawan,
inti tunggak dan menara kebahagian.

~ A Samad Said


Ombak ~ A.Samad Said

Oktober 10, 2007

Ombak yang menjamah
kakiku sekali
takkan dapat
kukenali lagi.

~ A.Samad Said


Dalam Librari ~ A. Samad Said

September 11, 2007

Dalam librari
aku tersengguk
seorang tua
tersenyum menegur:
Tak guna
membuka buku
menutup mata.
Kan elok
menutup buku
membuka mata?

Mulai esoknya
dalam librari
ku tak pernah
tersengguk lagi
walau orang tua
sudah lama
tiada kusua

Dalam librari
kini ku membaca,
mataku sering
ke kerusi orang tua
yang sudah tiada

~ A. Samad Said

———————————–


Panduan Memikat Wanita. Keterangan lanjut, sila klik sini.


Panduan Kuruskan Badan. Keterangan lanjut, sila klik sini.


Rahsia Tarikh Lahir. Keterangan lanjut, sila klik sini.


Rahsia Lulus Temuduga Kerja Kerajaan. Nak tau, sila klik sini.

Buat Duit Dengan Email
RM5.00 Setiap Kali Rakan Anda Join

Daftar percuma di sini


Tetamu Senja ~ A. Samad Said

April 6, 2007

Kita datang ini hanya sebagai tetamu senja
Bila cukup detik kembalilah
Kita kepadanya
Kita datang ini kosong tangan dada
Bila pulang nanti bawa dosa bawa pahala

Pada tetamu yang datang dan
Kenal jalan pulang
Bawalah bakti mesra kepada
Tuhan kepada Insan
Pada tetamu yang datang
Dan lupa jalan pulang
Usahlah derhaka pula
Pada Tuhan kepada insan

Bila kita lihat manusia lupa tempat
Atau segera sesat puja darjat
Puja pangkat
Segera kita insaf kita ini punya kiblat
Segera kita ingat kita ini punya tekad

Bila kita lihat manusia terbiar larat
Hingga mesti merempat ke laut biru
Ke kuning darat
Harus kita lekas sedar penuh pada tugas
Harus kita tegas sembah
Seluruh rasa belas

Kita datang ini satu roh satu jasad
Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat
Kita datang ini satu roh satu jasad
Bila pulang nanti bawa bakti padat berkat

~ A. Samad Said


Biografi A. Samad Said

Februari 13, 2007

A. Samad Said

Abdul Samad bin Muhammad Said atau nama penanya A. Samad Said, Hilmy Isa, Isa Dahmuri, Jamil Kelana, Manja, Mesra, dan Shamsir dilahirkan pada 9 April 1935 di Kampung Belimbing Dalam, Durian Tunggal, Melaka. Semasa berumur enam bulan, A. Samad Said dibawa oleh keluarganya ke Singapura. A. Samad Said memperoleh pendidikan formal di Sekolah Melayu Kota Raja hingga lulus darjah IV (1940-1946). Kemudian A. Samad meneruskan pengajiannya dalam kelas petang di Victoria Institution hingga memperolehi sijil Senior Cambridge (1956).

Pengalaman kerjaya A. Samad Said bermula sebagai kerani, pengarang di Utusan Melayu, Berita Harian, Kumpulan The Straits Times, dan ketua pengarang akhbar Warta Teberau. Jawatan terakhir A. Samad Said ialah sebagai ketua pengembangan sastera dalam Kumpulan Akhbar The New Straits Times, Kuala Lumpur. Kini A. Samad Said menjadi penulis sepenuh masa yang aktif berkarya.

Sejak di bangku sekolah lagi minatnya terhadap sastera mula berputik apabila beliau berjinak membaca karya sastera dalam dan luar negera geperti karya Ajip Rosidi, Rendra, Pramoedya, Achdiat, Hamzah dan Wijaya Mala. Beliau juga membaca novel yang ditulis oleh Oliver Twist, Wuthering Height, dan Almayer’s Folly. Beliau juga menggunting dan menyimpan cerpen daripada akhbar tempatan dan mengkajinya sebelum menghasilkan cerpennya sendiri. Kegiatan menterjemah beberapa karya asing juga secaran tidak langsung memperkuatkan minatnya terhadap kesuasteraan

Bermula detik alam persekolahan hingga kini A. Samad Said tida jemu menghasilkan puluhan karya dalam genre novel, puisi, drama, cerpen, dan esei untuk mewarnakan dunia sastera di persada tanah air dan antarabangsa. Antara karya besar yang dihasilkan ialah Salina, Bulan Tak Bermadu di Fatehpur Sikri, Sungai Mengalir Lesu, Di Hadapan Pulau, Langit Petang, Daerah Zeni, Hujan Pagi, Lantai T Pinkie, Wira Bukit, Benih Harapan, Benih Semalu, Daun Semalu Pucuk Paku dan Warkah Eropah, AL-AMIN , Riwayat Hidup Rasululiah s.a.w dalam Puisi (1999) dan kumpulah puisi Suara Dari Dinding Dewan (2003) terbitan Utusan Publication & Distributors Sdn Bhd. Sentuhan karyanya yang terbaharu ialah novel Adik Datang, kumpulan puisi Dirgahayu Dr Mahathir dan kumpulan puisi kanak-kanak Rindu Ibu yang diterbitkan oleh Wira Bukit Sdn Bhd.Beberapa karyanya diadaptasi menjadi teater/drama pentas seperti Salina, Sungai Mengalir Lesu, Lantai T. Pinkie, dan Memori Di Hadapan Pulau

Pencapaian dan sumbangan A. Samad Said dalam memperkayakan dan memertabatkan kesusasteraan Melayu telah mendapat penghargaan kerajaan apabila beliau menerima pelbagai anugerah. Antaranya termasuklah Pejuang Sastera (1976), SEA Write Award (1979), Anugerah Sasterawan Negara (1985), dan Anugerah Sasterawan Nusantara (1999).

Selain pengiktirafan dalam bidang sastera, A.Samad Said juga telah dianugerahkan darjah kebesaran Negeri Melaka yang membawa gelaran Datuk dalam tahun 1997 oleh Yang Dipertua Negeri Melaka. (Dewan Sastera Ogos 2003)

Kerajinannya menghasilkan karya dan ketekunannya membaca karya-karya orang lain menjadi titik penentu A. Samad Said ditabalkan sebagai Sasterawan Negara yang versatil di ujana kesusasteraan tanah air. Dalam karya A. Samad Said, khalayak akan melihat ketelitian dan kecermatannya sebagai pengarang pengarang yang menuangkan nurani seninya. A. Samad Said berpendapat bahawa untuk melahirkan karya, karyawan tidak hanya bergantung pada bahan dan bakat serta kekuatan fikiran sahaja tetapi yang penting ialah pembacaan dan pengalaman yang luas.

Antara Hasil karya:

A Samad Said (Antologi Puisi)
Adik Datang
Bulan Tak Bermadu Di Fatehpur Sikri
Dirgahayu Dr. Mahathir
Dosa Pejuang
Lantai T. Pinkie
Rindu Ibu
Suara Dari Dinding Dewan

Sumber:
Ujanailmu


Bahasa Terindah ~ A. Samad Said

Februari 12, 2007

Yang diucap dalam bahasa terindah,
Jawapan yang bertanya didengar nabi,
Antara kagum dan khusuk setiap ayatnya,
Lereng gunung menjadi amat sunyi,
Suara sajak tegas bergema,
Disampai arah berkias maksud serentak,
Tapi jelas intinya,
Tidak sedetikpun Allah menghindar,
Atau mencemuh nabi disisi segala didoa,
Dipenuhi segala yang dipinta tulus dan,
Penuh baraqah,
Yatim ia tak berlindung,
Tidakkah tersedia juga bumbung baginya.
Awal begitu bergantung,
Kini tidakkah merdeka,
Bebas hidupnya.

~ Dato’ A Samad Said


Menambat Rakit ~ A. Samad Said

Februari 9, 2007

Sesudah demikian lama dicintai,
sukarlah dilupakan.
Inti pengalaman, kepedihan;
akar kerinduan keresahan…
Memang begitu banyak
diperlukan kekuatan,
kepangkalan batin, rakit ditambatkan
bara kenangan dikuatkan
Akhirnya, tak terduga, kekuatan membuak sendiri,
dan disedari, semua takkan sampai, ke dasar inti.
Tiada lagilah bezanya,
sama ada hilangnya kemudian
atau tenggelamnya sekarang.
Tiada juga bezanya ,
jika ia langsung tak datang
atau tiba-tiba terkorban
Kepiluan yang berlanjut akhirnya,
ditenterami keyakinan,
betapa dielak puntakdir
tetap terbuka pintunya
bertanya: manusia, engkau ini sebenar-benarnya siapa..

~A. Samad Said (1985 )