Penaja

1.2.00

Puisi T.Alias Taib

Hutan Persahabatan ~ T. Alias Taib

Mac 27, 2008

Berkawan denganmu
Ialah berkawan dengan ilmu,
Dengan akal yang selalu di raut,
Renung yang selalu dikikir
Dan hujah yang selalu diasah.
Berkawan denganmu
Ialah bermusuh dengan musuhmu,
Dengan si fitnah yang beraja
Pada api perasaan,
Dan si dengki yang bersedia
Membentesmu dari belakang.

Ah, kawan, lupakan mereka.
Mari teruskan perburuan kita
Di hutan persahabatan kekal ini.
Aku tidak memerlukan kata-kata indah
Tetapi tangan ikhlasmu
Apabila terjatuh di perburuan ini.
Aku hanya ingin menemanimu
Di perjalanan yang penuh halangan
Dan perburuan yang menyukarkan.
Aku tidak memerlukan mereka,
Mari teruskan persahabatan kita.

T. Alias Taib


Ingatan Kecil ~ T. Alias Taib

Mac 26, 2008

Semak basah sepanjang denai ke sekolah
Menggigil menyambut kami di pagi lecah.
Kami berhenti di selekoh pohon gajus
Memungut embun berjuntai ke dalam botol
( embun, kata guru kami,
baik sebagai pelembut papan batu ).
Kami rukuk pada daun rimbun
Memenuhi botol dengan pesanan guru.

Ibu membekalku dan adikku
Papan batu, kalam batu, dan sebuah buku
Yang ku panggil “buku pasu bunga”.
Ibu juga membekalkan kami
Keledek rebus dan syiling lima sen
( duit ini, berkali-kali pesan ibu,
hanya penguat semangat
pulangkan kembali tengah hari nanti ).

Entah berapa lama ku kelek semangat ibu
Berulang-alik ke sekolah dengan botol embun.

T. Alias Taib
1950-an


Godot ~ T.Alias Taib

September 28, 2007

Beckett mencipta debu jemu
dan dilepaskannya mundar-mandir
ke tengah omong yang bertele-tele
ke gelisah yang mulai mengerut
di wajah Vladimir dan Estragon
di bawah pohon kelabu itu
di pinggir jalan kelu itu
Beckett mencipta angin ragu
dan ditiupkannya ke gelisah mereka
sambil menunggu Godot
mereka dikelirukan oleh Pozzo
yang datang bersama Lucky
di bawah pohon bosan itu
di pinggir jalan sepi itu
Beckett mencipta teka-teki
sekitar kehadiran Pozzo dan Lucky
di tangan Pozzo sebuah cemeti
di leher Lucky terjerut tali
sementara di tanganya pula
sebuah kopor yang berat,
stool, bakul dan kot
di tengah jemu, ragu dan keliru
seorang budak lelaki muncul
katanya dia seorang sembala kambing
bekerja untuk Godot
katanya Godot akan tiba esok
bukan senja ini
dia pun hancur dihadam malam
Godot tidak jua muncul keesokannya
jemu menebal dan terganutung di pohon
anging menajam dan meruncing di tengah
percakapan Vladimir dan Estragon
yang berakhir dengan nol
Godot tidak jua muncul
yang muncul ialah Pozzo
tiada siapa yang tiba
tiada siapa yang berlalu

T.Alias Taib


Penggali Kubur ~ T.Alias Taib

Ogos 28, 2007

Badai mengangkat mayat, kilat, guntur
dan angin ke sebuah gubuk di pinggir hutan.
jendela tersentak; beberapa bilah kilat
memacak engselnya. atap gementar digegar
guntur. ketukan menderu di daun pintu;
lebih tajam daripada kilat, lebih bergegar
daripada guntur, lebih kencang daripada
angin.
“sudah kaubina rumahku?” Tanya mayat sambil
menerjang pintu bagai badai yang menerjang
gubuk tua itu. pintu remuk, palangnya
terpelanting, mayat masuk menyeret badai
mengamuk. “rumahmu? tapi…” kata isteri
penggali kubur yang tinggal sebatang kara.
pelita di sisinya berguling. “suamiku,
penggali kubur itu, baru saja mati dan
baru saja menggali kuburnya.” sambung si
sebatang kara.
dalam gelap, kilat sempat melepaskan tiga
empat bilah cahaya tepat ke wajah pucat
mayat. mayat mengapung di laut ribut.
seperti sehelai selendang putih, ia me-
layang keluar melalui jendela, mencari
tukang rumah

T.Alias Taib

————



Rat Race (Potret Kuala Lumpur) ~ T.Alias Taib

Ogos 21, 2007

Apabila wisel ditiupkan
berjuta tikus bertempiaran

ada yang tergelek dengan perut berburai
ada yang tergolek di tepi sungai
ada yang lapar
ada yang menelan ibunya sendiri
ada yang kenyang
ada yang mati kekenyangan
ada yang putus ekornya
ada yang menyambung ekor yang putus
ada yang memanjat kepala teman
ada yang kepalanya dipanjat
ada yang meraung
ada yang termenung
ada yang mabuk di timbunan beras
ada yang gila di timbunan sampah
ada yang pulang dipeluk kekasih
ada yang hilang jalan pulang

berjuta tikus berkeliaran
menyambut cabaran wisel

T. Alias Taib (1983)
Dewan Masyarakat, Mac 1984


Duniaku ~ Tengku Alias Taib

Ogos 17, 2007

Kusimpan duniaku di dalam saku seluar
duniaku menyimpan seluruh perbatasan hidupku
kugolek duniaku melalui pintu hari
duniaku tiba-tiba bertukar
menjadi guli batu yang besar
kalau dipecah guliku
akan nampak peta seribu diri
terbentang sawah terbentang lembah
terbentang sungai menyerupai darah
mengalir di pinggir bukit gelisah
terbentang rimba purba tempat bercinta
segala haiwan segala kehijauan
terbentang juga malam yang hening
yang sekian lama menghilang
dari mataku
jauh di tengah kota debu kering
dan angin keras bergulingan
jauh di tengah kota kehidupan menggelepar
tercekik di dalam
tembok luka
kalau dipecah guliku
akan kelihatan serpihan diri bertaburan

Tengku Alias Taib ( T.Alias Taib)


Pertemuan ~ T. Alias Taib

Julai 13, 2007

Pertemuan berlaku
di penjuru matamu
yang ungu
lalu membiru

Pertemuan berlalu
di penjuru dadaku
yang sayu
lalu terharu

T.Alias Talib

Kuala Terengganu, 1974


Pengemis ~ T. Alias Taib

Jun 19, 2007

Dari tubuhnya
merangkak kehidupan
bagai seekor siput
mencari sehelai daun.

Dari peluhnya
terpercik harapan
bagai sekelopak bunga
menanti fajar pagi.

Dari keluhnya
terkumpul debaran
bagai gemuruh jeram
menangisi kabut hutan.

Dalam matanya
berkocak keharuan
bagai perahu tua
kematian angin.

Dalam suaranya
mengalir kesedihan
bagai anak sungai
kehilangan muara.

Dalam dadanya
menetes kesalan
bagai mendung hitam
ketibaan hujan.

Nukilan: T.Alias Taib

Kreatif: Manora

Oleh Jasni Matlani




SAYA tiba di kota Bandung ketika hujan lebat turun merembas jalan dan kabus mula turun dari lereng pergunungan. Air bertikung di selokan mengingatkan saya puisi Sapardi Djoko Damono. “Hujan mengenal baik pohonan dan air yang bertikung di selokan”. Saya merasa letih. Walaupun perjalanan dari kota Jakarta ke Kota Bandung hanya beberapa jam saja, tetapi keletihan seperti merasuk ke dalam tubuh dari celah-celah jendela kereta yang terdedah di sepanjang perjalanan yang muram dan kelabu.

“Kita akan ke bahagian Timur kota Bandung dahulu, sebelum turun kembali dan makan tengahari di restoran sangkuriang” kata pemandu kereta tumpangan saya menjelaskan jadual perjalanan.

Saya hanya mengangguk kerana tentulah dia lebih mengetahui selok-belok kota Bandung jauh lebih baik daripada saya.

“Bapak pandu kereta ke mana sahaja di Kota Bandung, tetapi saya hanya mempunyai satu hajat, ingin bertemu Manora. Tentu Bapak tidak keberatan membawaku menemuinya bukan?” soal saya.

“Tidak keberatan Pak. Tidak kebaratan,” jawab pemandu itu pantas, sambil ketawa dan berpaling sekilas ke arah saya. Dahulu pemandu itu juga yang membawa saya bertemu Manora.

Tetapi menyebut nama Manora, hati saya berkaca-kaca dan berbunga. Bunga yang harum dan mekar sepanjang masa. Sudah tentu dia berubah selepas beberapa tahun tidak menemuinya. Pada kali terakhir saya bersama Manora ialah ketika dia bercerita panjang tentang legenda rakyat Sangkuriang yang menjadi cerita kesukaannya dan juga kebanggaan masyarakat Sunda.

“Dataran tinggi Bandung dahulunya adalah kawasan danau yang luas,” jelas Manora dengan senyuman manis gadis Sunda yang boleh memukau seorang putera raja, “danau itu membentang sejauh lima puluh kilometer dari arah Barat ke Timur. Dari daerah Padalarang, sampai Cicalengka ... 30 kilometer dari Utara ke Selatan, bermula dari daerah Dago Pakar hingga ke Soreang, Kota Kecamatan yang kini dijadikan ibu kota Kabupaten Bandung. Kerana luasnya danau itu, penduduk menamakannya Situ Hyang” Manora berhenti seketika dan saya mengambil kesempatan untuk bertanya

“Apa ertinya Situ Hyang?” soal saya.

Manora melirik. Tetapi tentulah tidak ada kata-kata yang menggambarkan lirikannya dan saya bersetuju dengan seorang penyair yang mengatakan, bahawa kata-kata yang terbaik itu adalah kata-kata yang tidak diucapkan. Lalu saya membalas lirikannya dengan satu pandangan yang redup untuk kesekian kalinya, sebelum tenggelam dalam temaram kabus dan deruan angin.

“Situ Hyang,” kata Manora kemudian, “Ertinya ‘Danau tempat bersemayamnya para dewa,” sambung Manora. Tetapi saya hanya memerhatikan wajah dan bibirnya yang lembut, selembut angin petang yang bertiup di sekeliling Kota Bandung dan kabus mulai turun dan sungguh tenang seperti asap putih kelabu yang beralun di permukaan pagi yang indah. Tidak ada sebarang tanda yang menggusarkan atau sesuatu yang buruk akan berlaku dengan imbangan alam yang temaram seperti ini.

“Kalau kamu letih,” kata Manora kemudian,

“Tidak” celahku pantas, “malah senang” sambung saya sambil ketawa.

Manora tersenyum.

“Orang yang letih, mesti dihidangkan cerita yang santai,” katanya dengan pandangan mata jernih yang mesra.

“Contohnya?” soal saya.

Manora mengangkat kedua-dua belah bahu, sambil kedua-dua belah tangan kanannya di angkat separas dada, “Ya, cerita Sangkuriang misalnya.”

“Cerita Restoran Sangkuriang?” soal saya bergurau. Saya teringat Restoran sangkuriang yang menyediakan makanan Sunda yang enak, tempat kami makan bersama sebelum berkunjung ke Muzium Kota Bandung dalam pertemuan itu dan tempat itu juga yang bakal menjadi destinasi kami dalam pertemuan kali ini.

“Bukan.”

Manora ketawa, merasa sangat lucu. Lalu saya mengingati bahawa tidak ada pengalaman terindah dalam hidup saya, sehinggalah saya melihat Manora ketawa dengan begitu polos, ramah, riang, tanpa tercalit sedikit pun kekeruhan, apatah lagi prasangka yang buruk pada wajahnya yang sebersih dan seputih kabus itu. Kalaulah semua manusia memiliki kepolosan ini, sudah pasti kebencian, persengketaan dan pertumpahan darah tidak akan berlaku. Saya bergumam.

Manora mendekatkan wajahnya.

“Sangkuriang,” kata Manora kemudian setelah ketawanya reda, “adalah bahagian paling menarik dalam cerita kami sebagai warga Bandung.”

“Apa yang lebih menarik daripada melihat wajah kamu?”

“Ah, kamu,” Manora tersipu-sipu, “sering membuat saya merasa malu sendiri.”

“Saya mengatakan yang benar.”

“Ah, tipu kamu,” katanya kemudian cuba mengelak, “nah, lupakan itu. Sangkuriang tidak sabar menunggu ceritanya diselesaikan.”

Saya ketawa.

“Baiklah, teruskan Tuan Puteri,” kata saya mengalah. Mengalah untuk kemenangan yang lain.

“Pada zaman dahulu,” kata Manora tenang. Barangkali setenang air di tasik Situ Hyang yang menjadi persemayam para dewa, “Sangkuriang sangat mencintai Dayang Sumbi, ibu kandungnya sendiri dan kerana tidak dapat menerima cinta anak kandungnya itu, lalu Dayang Sumbi pergi ke sebuah tempat yang tinggi dan terjun sehingga meninggalkan bekas lubang yang sangat besar. Sangkuriang yang ketika itu sedang membuat perahunya, merasa sangat marah dan menendang perahu itu hingga jatuh tertelungkup di suatu tempat. Tempat itu sekarang dipanggil Gunung Tangkuban Perahu. Sementara tempat ibu kandungnya terjun itu, dinamakan Kawah Ratu. Nah, menarik bukan?” soal Manora.

“Ya, menarik kerana kita makan di restoran Sangkuring.”

“Ah! kamu,” kata Manora manja. Kembali tersipu-sipu.

Tetapi itu bahagian daripada cebisan kenangan lama. Soalnya sekarang, bagaimana rupa Manora selepas beberapa tahun tidak menemuinya. Tentulah, dalam imaginasi nakal saya, dia semakin dewasa dan lebih cantik daripada dahulu. Tentulah dia semakin memikat dan memiliki daya tarikan yang aneh. Bukankah orang Sunda selalu begitu. Semakin dewasa, semakin memukau lelaki. “Sangkuriang juga begitu. Jatuh cinta kepada wanita lebih dewasa, meskipun itu adalah ibu kandungnya sendiri. Sebabnya ialah kerana wanita dewasa lebih mengagumkan daripada apa yang digambarkan penyair tentang seorang gadis,” saya bergumam di dalam hati. Tidak ada sebarang reaksi di sekeliling.

Sebaliknya suasana menjadi sepi seketika sebelum pemandu kereta di sebelah saya mengejutkan dengan suara garau yang memenuhi ruang, “Bapak terus ke rumah Manora atau singgah di mana-mana dahulu?” soalnya.

Saya tidak segera menjawab. Tetapi, jika menurut kata hati, saya memang hendak segera ke rumah Manora. Melencongkan hala tuju ke destinasi lain adalah pemalsuan kata hati belaka. Seorang lelaki yang pergi terburu-buru hendak menemui seorang gadis selepas beberapa tahun tidak bertemu adalah ketulusan yang wajar. “Mengapa harus berpura-pura, jika rindu melonjak-lonjak seperti api?” satu suara yang aneh bergema dalam diri saya.

Tetapi sebelum soalan itu berjawab, tiba-tiba telefon bimbit pemandu kereta tumpangan saya itu berbunyi, nyaring sekali. Saya terdiam ketika bila melihat wajahnya berubah dalam sekelip mata, sebelum memberhentikan kereta di tepi jalan dan memberitahu kedudukan kami kepada pemanggil di hujung talian. Saya mendengar dia menyebut kami sedang melalui jalan ke Barat tidak jauh dari Masjid Raya Agung Bandung Provinsi Jawa Barat. Lalu dia mengangguk-anggukkan kepala dan berkata “Baik, Pak” beberapa kali sebelum memutuskan perbualan. Lalu dia termeunung seketika, merenung jauh ke hadapan seolah-olah terkhayal ketika saya bertanya,

“Ada apa pak, Tiba-tiba berhenti di tepi jalan?” saya memandangnya dengan penuh tanda tanya. Dia berkalih perlahan, tetapi tidak segera menjawab.

Saya merasa resah dan jika ada suatu pengalaman yang meresahkan bila melihat seseorang yang berubah dalam sekelip mata. Pengalaman ini adalah contohnya yang terbaik. Saya seperti merasakan bahawa perubahan itu menakutkan, walaupun ia belum disuarakan kepada saya.

“Ada apa pak?” saya menyoal lagi dengan wajah berkerut, apabila pemandu itu masih mendiamkan diri. Ada masalah keluarga atau jalannya macet di hadapan?” sambung saya dengan perasaan hati yang terus berteka-teki.

Pemandu itu cuba mengukir senyum, tetapi tawar.

“Ya, macet” katanya selamba, seolah-olah penglipur lara yang arif menghibur perasaan gundah gulana saya.

Tetapi saya tahu itu bukan jawapan yang jujur.

“Maafkan saya, Pak. Kita tidak bisa meneruskan perjalanan. Kita putar di hadapan sana dan saya diberitahu supaya membawa Bapak kembali segera ke Jakarta” katanya serba salah.

“Kenapa?” soal saya lebih serba salah lagi. “Jika kembali ke Jakarta sebelum bertemu Manora, perjalanan ke Kota Bandung hanyalah sebuah perjalanan yang sia-sia,” saya terganggu seketika.

“Maafkan saya, Pak,” dia memohon maaf ikhlas.

“Tapi bagaimana dengan hajat saya hendak bertemu Manora? Bagaimana dengan hasrat besar saya hendak membawa Manora makan di restoran Sangkuriang di tengah-tengah Kota Bandung itu?”

Pertanyaan itu datang bertubi-tubi seperti penumbuk tinju.

“Saya tahu hajat Bapak sangat besar hendak bertemu Manora,” katanya kemudian seperti mengetahui apa yang bermain di kepala saya. Pandangan mata kami bersetentang dan hampir tidak berkelip.

“Jadi, kenapa tidak meneruskan perjalanan?”

Dia tidak segera menjawab. Lama kemudian baru dia bersuara,

“Sebaiknya kita berpatah balik ke Jakarta, Pak.”

“Kenapa harus tiba-tiba berpatah balik ke Jakarta.”

“Saya diberitahu, jalan berhadapan Masjid Raya Agung Bandung Provinsi Jawa Barat, jalan yang kita hendak lalui untuk sampai ke rumah Manora sudah ditutup.”

“Kenapa?” soal saya terus mencari kepastian

“Sedang dalam pembinaan, diruntuhkan gempa bumi atau apa?” saya seperti tidak sabar.

“Tidak,” jawabnya lemah, “bukan sedang dalam pembinaan atau gempa bumi.”

“Jadi apa?” saya mendesak.

“Puluhan ribu warga Bandung sedang mengadakan demonstrasi, membantah tindakan Malaysia menggunakan beberapa pemandangan di Kota Bandung sebagai iklan pelancongannya dalam saluran TV Discovery Channel. Justeru, mereka mahu menangkap sesiapa sahaja rakyat Malaysia yang datang di kota Bandung dan membunuhnya dengan buluh runcing, Pak.”

Saya terdiam.

“Hanya kerana itu?”

“Ya.”

“Hanya kerana bumi Tuhan ini?”

“Ya.”

Waktu itu pemandu kereta tumpangan saya sudah menyelekoh ke sebatang jalan dan barangkali jalan itu hendak membawa kami berpatah balik ke Jakarta. Saya sangat yakin jalan itu tidak mungkin akan membawa saya bertemu Manora. Bukan jalan itu yang pernah kami lalui sebelumnya untuk bertemu Manora. Saya mengingatinya dan jika dia melalui jalan ini, itu bermakna perasaan rindu yang sudah hampir terlerai, akan kembali mengental di dalam dada dan bersarang di sana untuk satu tempoh yang tidak diketahui. Tetapi ada persoalan lain yang lebih jahanam sedang mengasak di kepala saya ketika itu. Dan ia tidak lain adalah tentang bangsa serumpun yang sudah tidak lagi mengenal sejarah leluhurnya dan mereka melupakan Tuhan dalam banyak perkara.

INFO:
JASNI Matlani lahir di Beaufort Sabah. Menulis dalam pelbagai genre puisi, cerpen, novel, drama dan esei/kritikan sastera. Pernah memenangi Hadiah Sastera Perdana Malaysia dan sering kali Memenangi Hadiah Sastera Sabah. Antara kumpulan cerpennya ialah Dunia Iris (2002), Hujan Putih

(DBP:2006) dan Negeri Malam (2008). Kini penulis sepenuh masa.